Dalam kehidupan sehari-hari, saya cukup sering berinteraksi dengan orang. Baik itu rekan kerja, teman, keluarga, mahasiswa atau siapapun. Bahkan hingga saat ini, setelah berkeliling ke beberapa tempat untuk mengunjungi sanak keluarga saat libur singkat.
Dari pertemuan-pertemuan itu, saya mencoba memahami bagaimana saudara, teman, atau siapa pun yang berasal dari latar belakang berbeda. Ada kemenarikan pada orang jawa termasuk saya sendiri sebagai orang jawa (tulen) karena lahir di kalimantan yang memiliki pola pikir dan mentalitas yang sedikit berbeda dari kebanyakan. Saya merefleksi dari yang pernah saya jumpai pada beberapa waktu kebelakang, dan bisa saja berbeda dalam sudut masing-masing. Ini hanya soal refleksi pengamatan dan pengalaman (empirism).
Sikap mental sebagian orang yang gemar menjadi kerikil bagi orang lain selalu ada, dari yang saya jumpai. Mentalitas seperti ini melahirkan apa yang bisa disebut dengan mental kerikil, meskipun mereka rajin mengikuti pengajian ke mana-mana, bahkan kerap memberi wejangan. Namun, dirinya sendiri belum bisa berubah. Mungkin terdengar memojokkan, namun saya kerap kali menemui hal tersebut, berulang dan tidak sedikit.
Di dunia ini, kerikil memang kecil dibandingkan batu. Tetapi dalam spiritualitas hidup, langkah manusia sering patah justru karena ulah kerikil-kerikil kecil yang tak terduga. Saya teringat pesan Mbah sebelum ajal menjemput beliau:
“Ngati-ati, Le. Nggonmu kerja sok ana wong sing ora seneng. Wong meri sok dadi krikil tumrap lakumu.”
"Hati-hati, Nak. Di tempat kerjamu kadang ada orang yang tidak senang padamu. Orang yang iri itu bisa menjadi kerikil dalam langkahmu.”
Pesan atau dalam antropologi disebut wasiat mbah ataupun sesepuh itu saya pegang erat. Ternyata benar. Dalam perjalanan hidup yang baru saya mulai dan masih dijalani, selalu ada saja kerikil tajam yang membahayakan kaki.
Metafora kerikil saya gunakan untuk menggambarkan orang yang bermental penghalang bagi langkah orang lain. Dalam jawa dhosok (pemaknaan dalam bahasa jawa), kerikil diibaratkan keri naning sikil yakni sesuatu yang kecil namun membuat langkah terasa tidak nyaman. Bahkan kerikil yang tampak lembut pun tetap mengganggu.
Kerikil Tajam juga menjadi salah satu judul film Indonesia tahun 1984 yang mengisahkan "kebobrokan moral dari kota hingga desa". Kalo kita amati maka kita bisa kita belajar, kerikil sering dipandang sebagai penghambat kemajuan. Kerikil perlu disingkirkan, dikelola, atau direvolusi agar tidak mencelakakan.
Mental kerikil adalah gambaran jiwa yang merasa puas ketika melihat orang lain celaka atau terjatuh. Hidupnya dikuasai penyakit SMS (Senang Melihat orang lain Susah). Ia gelisah ketika orang lain berhasil, namun merasa lega ketika orang lain tersandung. Mental seperti ini mengancam ketenangan hidup, baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri.
Karena itu, mental kerikil perlu berevolusi menjadi sesuatu yang lebih kuat dan tenang, sebagaimana saya menganalogikan dengan “mental batu dan air”. Jika kerikil memicu kecelakaan dan kegaduhan batin, maka batu dan air justru menguatkan kehidupan. Mungkin terdengar seolah out the topic, tetapi jika kita memahami sifat batu yang kokoh dan mampu memberi pijakan, serta air yang jernih, menyucikan rasa, dan menenangkan jiwa. Analogi itu menjadi jelas. Saya terinspirasi oleh momen bulan lalu ketika mengunjungi coban atau air terjun, melepaskan alas kaki, dan benar-benar merasakan kedamaian itu.
Tembang Sinom berikut melukiskan kehidupan yang bermental batu dan air hidup yang bertumbuh, teduh, dan memayu hayuning bawana (dalam buku Revolusi Mental dalam Budaya Jawa oleh Suwardi 2015:09):
Wulang batin lan estokna
Ajaran batin dan keteguhan hati
Watu guru kang sejati
Pengalaman hidup adalah guru yang sejati
Angin kang asung wewarah
Angin pun memberi nasihat (melalui tanda-tanda kehidupan)
Banyu wuruk urip suci
Air mengajarkan kesucian hidup
Temen olahing batin
Bersungguh-sungguh melatih batin
Temah tekun kang satuhu
Akhirnya menjadi pribadi yang tekun dan tulus
Kataken kang jinangka
Segala yang tersirat menjadi nyata
Kalamun rasa wis resik
Apabila rasa (hati) sudah bersih
Sumingkir memayu hayuning bawana
Maka ia menjauh dari keburukan dan ikut menjaga harmoni dunia
Sampai pada perenungan, bahwa perjalanan hidup tidak selalu terhalang oleh batu besar. Justru kerikil-kerikil kecil seringkali lebih menyakitkan. Tugas kita bukan sekadar menghindari kerikil itu, tetapi mengubah diri agar tidak menjadi kerikil bagi langkah orang lain dan perlahan belajar menjadi batu yang meneguhkan, serta air yang menenteramkan.
Penulis: Ihsan Zikri
Inspired Book (Revolusi Mental dalam Budaya Jawa oleh Suwardi 2015)


.jpg)







