Lens Of SAN: Pesan Realitas

LENS OF SAN

Opini dan Refleksi Seorang Pencandu Martabak Manis

Artikel

baca dong kak gratis kok :)

Tampilkan postingan dengan label Pesan Realitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesan Realitas. Tampilkan semua postingan

Dalam kehidupan sehari-hari, saya cukup sering berinteraksi dengan orang. Baik itu rekan kerja, teman, keluarga, mahasiswa atau siapapun. Bahkan hingga saat ini, setelah berkeliling ke beberapa tempat untuk mengunjungi sanak keluarga saat libur singkat. 


Dari pertemuan-pertemuan itu, saya mencoba memahami bagaimana saudara, teman, atau siapa pun yang berasal dari latar belakang berbeda. Ada kemenarikan pada orang jawa termasuk saya sendiri sebagai orang jawa (tulen) karena lahir di kalimantan yang memiliki pola pikir dan mentalitas yang sedikit berbeda dari kebanyakan. Saya merefleksi dari yang pernah saya jumpai pada beberapa waktu kebelakang, dan bisa saja berbeda dalam sudut masing-masing. Ini hanya soal refleksi pengamatan dan pengalaman (empirism). 


Sikap mental sebagian orang yang gemar menjadi kerikil bagi orang lain selalu ada, dari yang saya jumpai.  Mentalitas seperti ini melahirkan apa yang bisa disebut dengan mental kerikil, meskipun mereka rajin mengikuti pengajian ke mana-mana, bahkan kerap memberi wejangan. Namun, dirinya sendiri belum bisa berubah. Mungkin terdengar memojokkan, namun saya kerap kali menemui hal tersebut, berulang dan tidak sedikit.


Di dunia ini, kerikil memang kecil dibandingkan batu. Tetapi dalam spiritualitas hidup, langkah manusia sering patah justru karena ulah kerikil-kerikil kecil yang tak terduga. Saya teringat pesan Mbah sebelum ajal menjemput beliau:

Ngati-ati, Le. Nggonmu kerja sok ana wong sing ora seneng. Wong meri sok dadi krikil tumrap lakumu.

"Hati-hati, Nak. Di tempat kerjamu kadang ada orang yang tidak senang padamu. Orang yang iri itu bisa menjadi kerikil dalam langkahmu.”


Pesan atau dalam antropologi disebut wasiat mbah ataupun sesepuh itu saya pegang erat. Ternyata benar. Dalam perjalanan hidup yang baru saya mulai dan masih dijalani, selalu ada saja kerikil tajam yang membahayakan kaki.


Metafora kerikil saya gunakan untuk menggambarkan orang yang bermental penghalang bagi langkah orang lain. Dalam jawa dhosok (pemaknaan dalam bahasa jawa), kerikil diibaratkan keri naning sikil yakni sesuatu yang kecil namun membuat langkah terasa tidak nyaman. Bahkan kerikil yang tampak lembut pun tetap mengganggu.


Kerikil Tajam juga menjadi salah satu judul film Indonesia tahun 1984 yang mengisahkan "kebobrokan moral dari kota hingga desa". Kalo kita amati maka kita bisa kita belajar, kerikil sering dipandang sebagai penghambat kemajuan. Kerikil perlu disingkirkan, dikelola, atau direvolusi agar tidak mencelakakan.


Mental kerikil adalah gambaran jiwa yang merasa puas ketika melihat orang lain celaka atau terjatuh. Hidupnya dikuasai penyakit SMS (Senang Melihat orang lain Susah). Ia gelisah ketika orang lain berhasil, namun merasa lega ketika orang lain tersandung. Mental seperti ini mengancam ketenangan hidup, baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri.


Karena itu, mental kerikil perlu berevolusi menjadi sesuatu yang lebih kuat dan tenang, sebagaimana saya menganalogikan dengan “mental batu dan air”. Jika kerikil memicu kecelakaan dan kegaduhan batin, maka batu dan air justru menguatkan kehidupan. Mungkin terdengar seolah out the topic, tetapi jika kita memahami sifat batu yang kokoh dan mampu memberi pijakan, serta air yang jernih, menyucikan rasa, dan menenangkan jiwa. Analogi itu menjadi jelas. Saya terinspirasi oleh momen bulan lalu ketika mengunjungi coban atau air terjun, melepaskan alas kaki, dan benar-benar merasakan kedamaian itu.


Tembang Sinom berikut melukiskan kehidupan yang bermental batu dan air hidup yang bertumbuh, teduh, dan memayu hayuning bawana (dalam buku Revolusi Mental dalam Budaya Jawa oleh Suwardi 2015:09):

Wulang batin lan estokna

Ajaran batin dan keteguhan hati

Watu guru kang sejati

Pengalaman hidup adalah guru yang sejati

Angin kang asung wewarah

Angin pun memberi nasihat (melalui tanda-tanda kehidupan)

Banyu wuruk urip suci

Air mengajarkan kesucian hidup

Temen olahing batin

Bersungguh-sungguh melatih batin

Temah tekun kang satuhu

Akhirnya menjadi pribadi yang tekun dan tulus

Kataken kang jinangka

Segala yang tersirat menjadi nyata

Kalamun rasa wis resik

Apabila rasa (hati) sudah bersih

Sumingkir memayu hayuning bawana

Maka ia menjauh dari keburukan dan ikut menjaga harmoni dunia

 

Sampai pada perenungan, bahwa perjalanan hidup tidak selalu terhalang oleh batu besar. Justru kerikil-kerikil kecil seringkali lebih menyakitkan. Tugas kita bukan sekadar menghindari kerikil itu, tetapi mengubah diri agar tidak menjadi kerikil bagi langkah orang lain dan perlahan belajar menjadi batu yang meneguhkan, serta air yang menenteramkan.


Penulis: Ihsan Zikri

Inspired Book (Revolusi Mental dalam Budaya Jawa oleh Suwardi 2015) 


Pernah berada di posisi bingung?
Di antara “ya” dan “tidak”, antara “mendukung” dan “menentang”?
Di antara suara hati dan logika yang saling bertubrukan, hingga pikiran rasanya runyam dan batin terasa lelah?

Setiap manusia pasti pernah.


Kita diberi anugerah akal dan perasaan bukan untuk selalu tenang, tapi untuk diuji dalam dinamika yang terus berganti. Kadang hidup datang seperti ombak pasang yang menghantam keras, lalu surut perlahan meninggalkan ketenangan semu di tepi pantai kesadaran kita. 


Namun sering kali, kita justru enggan melihat pergulatan itu sebagai peluang untuk tumbuh. Kita ingin lekas selesai, lekas tenang, lekas “baik-baik saja”. Padahal, mungkin di sanalah Tuhan sedang mengundang kita untuk belajar mengenali diri.


Saya teringat ucapan seorang teman,

“Masalah dan ujian itu tanda bahwa Tuhan peduli. Ia ingin tahu bagaimana caramu menanggapi.”

Kalimat itu sederhana, tapi menembus. Bahwa ujian bukan semata cobaan, melainkan cara Tuhan berbisik: “Aku masih melihatmu, maka Aku masih mengujimu.”


Dalam buku The Righteous Mind yang baru saya beli di event pameran Semesta Buku x Gramedia, Jonathan Haidt menulis sesuatu yang menggelitik kesadaran saya, 

“Saya tidak mengatakan bahwa kita harus hidup seperti Sen-tsan. Dunia tanpa moral, gosip, dan penghakiman akan runtuh menjadi kekacauan. Namun bila kita ingin memahami diri kita sendiri, perpecahan kita, batas kita, dan potensi kita, kita perlu melangkah mundur, meninggalkan moralisme, menerapkan psikologi moral, dan menganalisis permainan yang sedang kita mainkan.”

Kutipan itu membuka mata, bahwa di balik setiap sikap kita entah mendukung atau menentang selalu ada permainan moral yang sedang berjalan. Kita berdebat bukan semata karena benar atau salah, tapi karena ingin merasa berada di pihak yang lebih benar. Kita membela bukan semata karena paham, tapi karena ingin didengar. 


Dan di titik itulah “pergelutan” menemukan maknanya.
Ia tidak hanya terjadi di forum-forum besar, tapi juga di ruang paling sunyi di kepala kita.
Ada suara lembut yang mengajak berempati, tapi ada pula nalar keras yang menuntut keadilan. Ada hati yang ingin memahami, tapi ada ego yang ingin menang.


Menjadi manusia berarti belajar menyeimbangkan keduanya.
Belajar menimbang tanpa tergesa menghakimi.
Belajar memahami tanpa harus kehilangan prinsip.
Belajar mendukung tanpa harus meniadakan yang berbeda.


Sebab hidup bukan soal selalu benar atau salah.

Hidup adalah tentang bagaimana kita mengelola ruang “di antara” itu — ruang kecil tempat hati, akal, dan iman berdebat, lalu perlahan saling menuntun menuju kedewasaan.


Dan barangkali, di situlah Tuhan paling dekat dengan kita 
bukan saat kita merasa menang,
tetapi saat kita sedang bergelut mencari arah yang benar.

Jalan sempurna semata sukar

bagi yang yang memilah dan memilih. 

Jangan menyukai, jangan tidak menyukai

semuanya akan lantas jernih.


Buatlah perbedaan setipis helaian rambut

Langit dan Bumi pun terpisah. 

Bila kau ingin kebenaran berdiri jelas di depanmu,

jangan mendukung ataupun menantang.


Pergelutan antara “mendukung” dan “menentang”

adalah penyakit akal terburuk.

 

-----


Epilog


Kadang, pergulatan tak perlu segera dimenangkan.
Cukup dijalani dengan jujur, dengan hati yang terbuka dan doa yang tak putus.
Sebab bisa jadi, yang Tuhan kehendaki bukan hasil dari pergulatan itu,
melainkan siapa diri kita setelah melewatinya.


Penulis: Ihsan Zikri



Beli bukunya disini di Event Semesta Buku x Gramedia









Hari ini tidak ada sorak-sorai. Tidak ada perayaan besar. Tapi ada ruang kecil dalam diri yang terasa cukup hangat untuk sekadar duduk, diam, dan merenungi—sudah sejauh mana kaki ini melangkah?


Dua puluh lima.

Aku menyebutnya "tumbuh tahun"sebuah fase di mana aku menyadari bahwa yang bertambah bukan hanya angka, tapi semestinya juga pemahaman, kepekaan, dan kedewasaan.

Bukan juga angka yang harus dirayakan secara ramai-ramai, tapi cukup penting untuk direnungi. Bahwa waktu terus berjalan, dan hidup perlahan mengajarkan bahwa kedewasaan bukan tentang usia semata, melainkan tentang bagaimana kita menjaga arah, menyadari nilai, dan terus bertumbuh meski tak selalu terlihat.

Tumbuh tahun adalah tentang proses, bukan selebrasi.


Perjalanan ke titik ini penuh simpul, ada pencapaian yang membahagiakan, ada kegagalan yang menguatkan. Ada orang-orang baik yang datang sebagai guru, dan ada kehilangan yang menyisakan jeda untuk belajar.


Masih punya ambisi. Masih ingin berkembang, masih ingin melangkah lebih jauh. Tapi mungkin bedanya, ambisi hari ini tidak lagi dibalut oleh ego ingin tampil. Lebih kepada bagaimana menjadi versi terbaik dari diri sendiri—dalam diam yang produktif, dalam kerja yang konsisten, dalam proses yang tidak selalu perlu diumumkan.


Kini mulai belajar bahwa menjadi utuh tidak bisa hanya dengan satu sisi. Maka perlahan mencoba menyeimbangkan:


  • Olah Rasa, agar peka terhadap sekitar dan tetap peduli meski terkadang sekitar memberikan feedback yang tak baik kepada kita. 
  • Olah Pikir, agar tetap tajam, rasional, tidak mudah terombang-ambing oleh arus yang ramai.
  • Olah Batin, agar niat selalu lurus, hati terhubung dengan nilai-nilai yang dalam, dan jiwa tetap kuat meski diuji.
  • Olah Raga, karena tubuh ini pun titipan, dan kesehatan adalah syarat untuk terus berkarya.


Semua itu membantu menjaga hubungan dengan yang diatas (ḥablum-minallāh)—dalam diam, dalam doa, dalam usaha. Juga menjaga hubungan dengan sesama (ḥablum-minannās)—dalam etika, tanggung jawab, dan cara menghargai orang lain. Di usia ini, ingin lebih sadar, lebih adil dalam relasi, dan tidak hanya sibuk mengejar dunia sendiri.


Rasa syukur juga tumbuh lebih jernih. Bukan hanya karena punya, tapi karena sadar bahwa tidak semua orang punya kesempatan yang sama. Bisa belajar, bisa sehat, bisa berkarya, bisa bermakna—itu saja sudah cukup untuk membuatku ingin melanjutkan hari dengan semangat yang baik.


Jika boleh meminta, aku ingin terus diberi kejernihan berpikir, keluasan hati, kesehatan tubuh, dan kesempatan untuk tumbuh dalam kebaikan. Ya, sebagaimana orangtuaku memberikan nama 'ihsan' yang berarti (kebaikan, berbuat baik). Untuk diriku sendiri, untuk orangtuaku, dan untuk siapa pun yang bisa merasakan dampak dari kehadiranku, sekecil apa pun itu.


Dua puluh lima bukan puncak. Tapi ini cukup untuk mengingatkan bahwa waktuku di dunia ini terbatas, dan aku ingin menggunakannya dengan baik. Tanpa banyak riuh, tapi tetap teguh.


Ucapku maaf atas lidah yang berucap menyakiti baik disengaja ataupun tidak untuk semua orang yang pernah berjumpa. 


I wanna say thankyou for me :) 

Teruslah belajar, bergerak, dan berdampak untuk kebermanfaatan dan kebahagiaan orang banyak meski belum terlihat. ✋


Alhamdulillah, Dua Puluh Lima. 

(Ahad, 03 Muharram 1447 H/29 Juni 2025 M).


Picture Angka Canva Design



Beberapa waktu terakhir, dunia kembali diguncang oleh eskalasi konflik militer. Dentuman rudal dari satu negara dibalas dengan serangan udara dari negara lain. Media menyorot ketegangan antara Israel dan Iran—dua negara yang sudah lama menyimpan sejarah permusuhan. Tapi sesungguhnya, kisah seperti ini sudah berulang-ulang terjadi. Mereka pernah saling menyerang pada 2004. Lalu berhenti. Namun, apakah berhenti berarti berdamai?


Jawaban yang jujur adalah: tidak. Dunia terlalu sering keliru memahami “tidak ada perang” sebagai “sudah damai.” Padahal bisa jadi, diam hanya berarti sedang menahan diri, atau menyusun balas dendam yang lebih besar.


Seperti yang ditulis oleh Johan Galtung, tokoh studi perdamaian dunia, dalam bukunya Peace by Peaceful Means (1996):

"Absence of violence is not peace. Peace is the presence of justice and equity."
(Tidak adanya kekerasan bukanlah perdamaian. Perdamaian adalah hadirnya keadilan dan keseimbangan.)

Konflik yang mereda karena tekanan politik, bukan karena hati yang telah berdamai, ibarat api yang hanya tertutup abu. Ia tetap panas. Dan ketika angin dendam kembali bertiup, ledakan itu tak terhindarkan.


Nafsu dan Dendam: Luka Lama yang Tak Diobati

Dalam ajaran Islam, kita diajarkan bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu. Bukan tanpa sebab. Nafsu adalah sumber dari banyak kehancuran, keinginan untuk menguasai, membalas, menaklukkan. Dalam konteks ini, kita bisa merenungi kutipan dari Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin:

"Musuh terbesar manusia adalah nafsunya sendiri. Barang siapa mampu mengalahkannya, maka ia telah menang atas peperangan yang sejati."

Peperangan lahir dari peperangan batin yang tak selesai. Ketika pemimpin dan bangsa belum bisa mengendalikan nafsu berkuasa dan keinginan membalas, maka diplomasi hanya jadi jeda sebelum perang berikutnya.

Begitu juga dengan dendam. Dalam bukunya The Anatomy of Peace, The Arbinger Institute menulis:

"Dendam adalah bentuk lain dari keterikatan. Ia membuat kita tetap hidup dalam konflik, bahkan ketika senjata sudah diletakkan."

Dendam menjadikan kita tahan hidup dalam luka. Ia membuat generasi baru tumbuh dalam cerita masa lalu yang tidak mereka alami, tapi mereka rasakan bebannya. Ini mengapa banyak konflik dunia seperti lingkaran setan—tanpa ujung, tanpa penyelesaian.


Ketika Damai Jadi Pilihan Berani
Sering kali kita mengira bahwa damai itu pilihan yang lemah. Padahal, justru damailah pilihan yang paling berani. Karena ia menuntut pengakuan. Ia mengajak manusia menahan nafsu untuk membalas, dan memutus rantai dendam meskipun punya alasan kuat untuk melanjutkannya.

Seperti dikatakan Mahatma Gandhi dalam My Experiments with Truth:

"An eye for an eye only ends up making the whole world blind."
(Mata dibalas mata hanya akan membuat seluruh dunia menjadi buta.)

Kita hidup di dunia yang sudah terlalu lama buta oleh amarah. Saatnya kembali melihat dengan jernih. Bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa besar negara bisa menyerang, tetapi pada seberapa dalam ia bisa mengampuni.


Penutup: Damai Dimulai dari Dalam
Pada akhirnya, refleksi ini bukan hanya tentang Israel dan Iran, atau negara-negara lain yang berkonflik. Ini tentang kita semua—tentang bagaimana manusia, dalam skala pribadi maupun global, terus-menerus terjebak dalam siklus nafsu dan balas dendam.

Kita bisa belajar dari sejarah, dari kitab-kitab kebijaksanaan, dan dari luka-luka yang belum sembuh di dunia. Tapi yang lebih penting, kita harus mulai berdamai—dengan diri sendiri, dengan masa lalu, dan dengan orang lain.

Karena seperti yang ditulis oleh Karen Armstrong dalam Twelve Steps to a Compassionate Life:

"Peace is not the absence of conflict, but the ability to cope with conflict peacefully."

Dan kemampuan itu hanya akan tumbuh jika kita cukup jujur untuk mengakui bahwa musuh terbesar kita—adalah diri kita sendiri.


Ruang baru yang menjadi simbol semangat intelektual dan kolaborasi para doktor muda Kalimantan Timur. Synapse Institute hadir sebagai wadah berbagi gagasan, mempertemukan ide-ide besar, dan mendorong generasi muda menuju jenjang pendidikan tertinggi.


Diprakarsai oleh Dr. Ahmad Azazi Rhomantoro, yang juga selaku Founder Tirto Foundation, Forum Ini Bertujuan Mendorong Generasi Muda untuk Menempuh Studi Doktoral.


GoogleMeet, 21 Januari 2025 – Dalam upaya meningkatkan kualitas intelektual dan memperkuat jejaring akademik di Kalimantan Timur, sejumlah doktor muda dari berbagai disiplin ilmu menggagas sebuah forum yang dinamakan Synapse Institute. Forum ini hadir sebagai wadah bagi para akademisi muda yang tengah menempuh studi doktoral, baik yang telah lulus maupun yang masih berjuang di jenjang S3.


First Meet rekan-rekan Forum Synapse Institute 


Bersama rekan-rekannya yang memiliki kepakaran masing-masing yakni kandidat doktor muda Novan Leany, Khairil Rhamadani, Ihsan Zikri, dan lainnya yang sedang menjalani program doktoral, Synapse Institute bertujuan untuk memperkenalkan dan menyebarluaskan visi program yang dapat mendorong lebih banyak generasi muda Kaltim melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Forum ini juga ingin menjadi penghubung antara potensi akademik dan peluang beasiswa serta riset, kajian literasi berbasis fenomenologi yang dapat dimanfaatkan oleh para calon doktor.


Beberapa program yang menjadi pembahasan yakni:


1. Mendorong Minat Melanjutkan Studi ke S3

Salah satu fokus utama dari Synapse Institute adalah mendorong generasi muda di Kaltim untuk melanjutkan pendidikan ke program magister hingga doktoral. Forum ini menyediakan berbagai informasi terkait motivasi akademik dan profesional bagi mereka yang berminat, termasuk pembahasan mengenai ketersediaan beasiswa dan dukungan komunitas yang dapat mempermudah perjalanan studi S2-S3.


"Studi doktoral bukan hanya tentang gelar, tapi juga tentang kontribusi ilmu pengetahuan yang dapat kita berikan kepada masyarakat. Kami ingin agar lebih banyak anak muda Kaltim melihat studi S3 sebagai jalan untuk berkontribusi lebih pada daerah dan bangsa, lebih khusus daerah provinsi kaltim sebagai sentral pemberdayaan SDM dengan adanya pemindahan IKN". 


2. Pembahasan Jejaring Beasiswa dan Pengalaman Penerima Beasiswa

Selain mendorong studi S3, Synapse Institute juga menjadi sumber informasi tentang berbagai program beasiswa dalam dan luar negeri. Forum ini menyediakan informasi terbaru mengenai peluang beasiswa dan strategi aplikasi yang efektif untuk mempermudah para peserta dalam memperoleh kesempatan pendanaan pendidikan tinggi. Tak hanya itu, forum ini juga menjadi tempat bagi para penerima beasiswa untuk berbagi pengalaman dalam menghadapi proses seleksi beasiswa yang kompetitif.


"Melalui kolaborasi dengan para penerima beasiswa, kami berharap dapat memberikan gambaran nyata mengenai tantangan dan peluang yang ada dalam meraih pendidikan tinggi di luar negeri,"


3. Sharing Keilmuan dan Kolaborasi Riset

Berangkat dari masing-masing kepakaran menjadi nilai untuk melakukan diskusi kajian.  Synapse Institute juga berkomitmen untuk menjadi tempat bagi anggota forum untuk berbagi riset terbaru. Dalam berbagai pertemuan, akan diadakan diskusi hasil riset, mendiskusikan temuan-temuan baru, dan menjalin kolaborasi dalam penelitian serta publikasi ilmiah.


“Forum ini tidak hanya tentang berbagi pengetahuan, tetapi juga tentang memperluas jaringan akademik. Kami ingin menciptakan peluang kolaborasi riset yang dapat menghasilkan publikasi-publikasi ilmiah yang bereputasi tinggi,”


3. Proyek Menulis Bersama dan Riset untuk Kaltim

Synapse Institute juga memperkenalkan proyek menulis bersama, di mana anggota forum diajak untuk menyusun artikel, jurnal, atau bahkan buku secara kolektif. Proyek ini bertujuan untuk memperkuat keterampilan menulis akademik para anggota sekaligus mempublikasikan riset-riset mereka dalam bentuk yang lebih terstruktur.


Selain itu, forum ini juga mendorong riset yang berbasis pada kebutuhan daerah, dengan fokus pada topik-topik yang relevan untuk pengembangan Kalimantan Timur. Melalui kerja sama dengan berbagai institusi lokal dan nasional, Synapse Institute berambisi untuk menghasilkan riset-riset unggulan yang dapat memberikan dampak langsung bagi perkembangan daerah.


4. Menjadi Wadah Transformasi Intelektual dan Kajian Terbuka Isu Publik

Synapse Institute hadir dengan visi untuk menjadi pusat transformasi intelektual yang memajukan generasi akademisi muda Kalimantan Timur. Forum ini menjadi jembatan yang menghubungkan potensi akademik dengan berbagai peluang pendidikan, riset, dan kolaborasi strategis. Dengan dukungan dari berbagai pihak, Synapse Institute berkomitmen memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan masa depan yang lebih baik melalui pendidikan tinggi, riset unggulan, dan kajian isu-isu publik yang relevan.


“Ini adalah langkah awal untuk membangun ekosistem akademik yang lebih progresif di Kalimantan Timur. Kami berharap lebih banyak anak muda Kaltim yang tidak hanya berani melanjutkan studi hingga jenjang doktoral, tetapi juga mampu memberikan kontribusi melalui riset dan publikasi yang bermanfaat bagi masyarakat luas,” 


Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Synopse Institute mengundang para intelektual muda untuk bergabung dan bersama-sama menciptakan perubahan positif bagi Kalimantan Timur dan Indonesia.


Lebih lanjut:

https://www.instagram.com/synapseinstitute.official




Lagi-lagi muncul dalam perjalanan. Perjalanan tiga jam di atas rel kereta menuju Tulungagung adalah sebuah ruang refleksi. Di luar jendela, pemandangan silih berganti: jalan setapak, bukit gersang, pohon kamboja berbunga pink yang berdiri anggun di tepi jalan, dan kuburan yang tersembunyi di bawahnya. Pohon itu memberi kesan harapan, tetapi kuburan di bawahnya mengingatkan akan ketidakterdugaan hidup.


Hidup kita sering kali seperti perjalanan kereta ini bergerak dari satu stasiun ke stasiun lain tanpa tahu apa yang menunggu di depan. Kehilangan sosok yang dicintai, seperti keluarga, adalah salah satu tikungan tajam dalam perjalanan itu. Rasanya seperti kereta tiba-tiba berhenti di tengah padang gersang tanpa alasan. Tapi, sebagaimana kereta akan melanjutkan perjalanannya, hidup pun mengajarkan kita untuk terus bergerak, meskipun dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh.


Saya teringat pada pemikiran Viktor Frankl dalam bukunya Man's Search for Meaning. Ia menulis, "Kehidupan tidak pernah berhenti bertanya kepada kita, dan kita hanya bisa menjawabnya dengan tindakan kita sendiri." Kehilangan adalah pertanyaan besar yang hanya bisa dijawab dengan keberanian untuk tetap melangkah.


Di momen kehilangan, ide-ide sering menghampiri kita seperti balon udara yang beterbangan, mencari tempat untuk mendarat. Ide tidak datang tanpa alasan; ia membawa misi, seperti pesan dari alam semesta, meminta kita bekerja sama untuk mewujudkannya. Namun, ide butuh komitmen dan waktu. Jika kita tidak peka atau terlalu sibuk berkata, “Nanti saja,” ide itu akan pergi, mencari jiwa yang lebih siap menerimanya.


Sebagaimana yang dikatakan oleh Rumi: 

“Jangan duduk diam; bergeraklah, melangkahlah. Meski kau tidak tahu ke mana, perjalanan itu sendiri akan membawamu ke tempat yang kau butuhkan.”


Poin yang bisa kita ambil dari perjalanan ini:


  1. Hidup adalah Serangkaian Tikungan Tak Terduga
    Pohon kamboja dan kuburan di bawahnya mengajarkan bahwa hidup adalah perpaduan harapan dan misteri. Ketika kehilangan datang, yang perlu kita lakukan adalah tetap bergerak meski pelan, seperti kereta yang melaju di tengah bukit gersang.
  2. Ide adalah Peluang yang Perlu Dirangkul
    Ide datang seperti balon udara, melayang-layang di sekitar kita. Jangan biarkan ide pergi tanpa sempat kita wujudkan. Komitmen kecil yang kita berikan pada ide bisa menjadi awal dari sesuatu yang besar.

  3. Makna Ditemukan dalam Perjalanan
    Seperti yang dikatakan Viktor Frankl, hidup selalu bertanya kepada kita. Jawaban terbaik adalah dengan terus melangkah, meski arah belum jelas. Perjalanan itu sendiri yang akan membawa kita pada makna baru.

  4. Bergerak Adalah Bentuk Penghormatan
    Kehilangan sosok yang dicinta bukan akhir dari segalanya. Bergerak maju adalah bentuk penghormatan kepada mereka, kepada hidup, dan kepada diri kita sendiri.

Seperti kereta yang tak pernah berhenti di satu stasiun, kita juga perlu terus melaju. Pohon, kuburan, rel, dan stasiun adalah simbol bahwa hidup ini adalah perjalanan yang penuh pelajaran. Jika kita cukup berani memberikan waktu dan komitmen, baik untuk ide maupun diri kita sendiri, hidup akan memberi lebih dari yang kita harapkan.


Dah segitu aja, takut bosen bacanya... matur thankyou :)


https://id.pinterest.com/abdumalikh44/



Ketika lentera yang menerangi masa depan tak lagi dihargai, mungkinkah kita masih mampu berjalan menuju terang? ucapku dalam benak,


Diperjalanan hari ini yang hampir saja terlupakan, mencoba menyempatkan dan merefleksikan dalam bentuk tulisan singkat mengenai Hari Guru.  Hari Guru seharusnya menjadi momen penuh syukur untuk mengenang jasa mereka yang tak kenal lelah membimbing langkah kita. Namun, di balik kemeriahan perayaan, ada realitas yang sering luput dari perhatian, guru-guru yang bertahan dalam sunyi, berjuang di tengah keterbatasan, dan kadang kala harus menghadapi ketidakadilan. Kasus Supriyani di Konawe Selatan adalah salah satu cerminan getirnya kondisi ini seorang guru honorer dengan gaji hanya Rp300.000 per bulan, dituduh menganiaya anak dari seorang oknum polisi, dan harus menghadapi proses hukum yang melelahkan sebelum akhirnya dinyatakan tidak bersalah.


Refleksi ini mengajak kita merenungkan,

Sudah sejauh mana kita benar-benar peduli terhadap mereka yang telah mencurahkan jiwa dan raga untuk membangun masa depan bangsa?


Hari Guru Nasional tahun ini membawa kabar yang menggugah hati: Supriyani, seorang guru honorer di Konawe Selatan, akhirnya dinyatakan bebas setelah menghadapi tuduhan menganiaya anak dari seorang oknum anggota polisi. Kasus ini berakhir setelah proses persidangan selama sebulan, di mana pada Senin (25/11/2024), Pengadilan Negeri Andoolo memutuskan bahwa Supriyani tidak bersalah atas tuduhan pemukulan. Putusan ini berdasarkan bukti dan keterangan saksi yang menguatkan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana yang dituduhkan.


Namun, kasus ini menyisakan luka yang mendalam dan membuka mata kita terhadap realitas kehidupan para guru honorer. Supriyani, yang digaji hanya Rp300.000 per bulan, menjalankan tugasnya dengan segala keterbatasan. Ia harus menghadapi tuduhan berat dan proses hukum yang melelahkan, padahal tanggung jawab yang diembannya adalah mendidik generasi bangsa. Kisah ini bukan hanya soal ketidakadilan, tetapi juga potret bagaimana profesi guru, terutama honorer, masih berada dalam posisi yang rentan baik secara hukum, kesejahteraan, maupun penghormatan sosial.


Kompleksitas persoalan ini semakin terasa jika kita melihat kasus serupa di berbagai daerah. Guru sering kali menjadi korban kriminalisasi karena ketidakjelasan regulasi atau miskomunikasi dengan masyarakat. Di sisi lain, kesejahteraan guru, terutama honorer, masih jauh dari kata layak. Gaji yang tidak memadai dan beban kerja yang berat menjadi realitas pahit yang mereka hadapi setiap hari. Belum lagi stigma negatif dan kurangnya penghormatan terhadap profesi ini, seperti kasus di mana guru dilaporkan oleh orang tua hanya karena memberi hukuman mendidik.


Melihat kondisi ini, perlindungan hukum bagi guru menjadi kebutuhan mendesak. Revisi kebijakan pendidikan harus memberikan ruang aman bagi guru dalam menjalankan tugasnya tanpa rasa takut akan kriminalisasi. Pendampingan hukum perlu disediakan, terutama bagi guru honorer yang rentan menghadapi masalah hukum. Selain itu, masyarakat perlu diedukasi untuk lebih memahami peran guru sebagai pembentuk generasi masa depan, sehingga konflik dan kesalahpahaman dapat diminimalkan.


Hari Guru seharusnya bukan hanya perayaan, tetapi juga momentum refleksi bagi kita semua untuk mendukung para pendidik yang menjadi pilar kemajuan bangsa. Dukungan konkret berupa peningkatan kesejahteraan, perlindungan hukum, dan penghargaan adalah langkah nyata yang harus segera diwujudkan.

by keyxx

Guru, terima kasih telah bertahan meski sering terlupakan. Supriyani dan para guru lainnya adalah inspirasi tentang keteguhan hati di tengah berbagai tantangan. Kami berharap, kelak setiap langkah kalian dilindungi, dihargai, dan dirayakan. Dari tangan kalian, cahaya pengetahuan terus menyala untuk menerangi bangsa ini.

Terima kasih telah bertahan, wahai pahlawan tanpa tanda jasa.

Dari kami, penikmat jasamu.


Ketika Kehampaan Menghampiri,

Suatu malam yang tenang, saat gelapnya sinar lampu kamar yang sudah mati, ponsel bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul dari sahabat lama yang jarang sekali saya dengar kabarnya. Dengan rasa penasaran, saya membuka pesan tersebut. Ia menanyakan kabar, namun lebih dari itu, ia ingin berbagi cerita tentang sebuah perasaan yang cukup mendalam tentang kehampaan yang menyelimutinya meski hidupnya terlihat baik-baik saja.


Dalam pesan-pesan yang mengalir, ia bercerita tentang pencapaian yang telah diraihnya karier yang mapan, teman yang banyak, bahkan ibadah yang rajin dijalankannya. Namun, di balik semua itu, ada ruang kosong yang menggelayuti hatinya, seakan-akan sebuah kabut tebal menyelimuti jiwanya, menghalangi cahaya kebahagiaan yang seharusnya menerangi hidupnya. 


"Aku tidak mengerti," tulisnya. "Kenapa aku masih merasa hampa? Seolah ada yang hilang meski segala sesuatu di luar terlihat baik." Dalam setiap kalimat, saya merasakan kepedihan dan kebingungan, sebuah refleksi dari perjalanan spiritual yang tak selalu sejalan dengan pencapaian duniawi. 

Perasaan kehampaan ini bukanlah hal yang asing. Banyak dari kita yang di tengah kesibukan dan kesuksesan, sering kali merindukan sesuatu yang lebih—makna yang lebih dalam dalam hidup, sebuah koneksi yang lebih kuat dengan diri sendiri dan dengan Sang Pencipta. Sahabatku adalah cerminan dari banyak jiwa yang berjuang di tengah riuhnya dunia, terjebak dalam paradoks antara pencapaian dan keheningan batin. 


Dalam keheningan kami berdiskusi, mencoba merangkai kata-kata untuk menjelaskan apa yang kadang sulit dipahami. Apa sebenarnya yang hilang? Apa yang dapat mengisi kekosongan ini? Dialog kami bukan sekadar obrolan biasa, tetapi sebuah perjalanan untuk memahami bahwa terkadang, di balik rutinitas ibadah dan pencapaian, ada pencarian yang lebih dalam yakni pencarian makna yang membawa kita pada kedamaian sejati. 


Kisah ini adalah undangan bagi saya pribadi untuk merenungkan perjalanan batin kita masing-masing. Mencoba menggali lebih dalam, mencari tahu apa yang benar-benar kita butuhkan, dan menjadikan setiap ibadah bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai jalan untuk mengisi kehampaan yang sering kali tak terucapkan.


Saya jadi teringat salah satu filsuf yang saya gemari dengan karya dan retorik sejuk nan damainya dalam menyampaikan. Ya, Dr. Fahruddin Faiz seorang filsuf dan dosen yang kerap menyelami persoalan jiwa dalam relasi dengan Tuhan, pernah menyebutkan bahwa kehampaan dalam hati bukanlah tanda dari kurangnya ibadah atau lemahnya iman. Menurutnya, kehampaan itu sering kali adalah ruang kosong yang sengaja Tuhan sisakan agar manusia terdorong untuk terus mencari, terus berproses, dan mendekat pada hakikat ketulusan yang sesungguhnya. 


Pertanyaan yang timbul, apakah selama ini "ketulusan yang sesungguhnya" belum sampai kepada kita atau kita yang tak menjemputnya (?)


Mungkin, manusia ini adalah orang yang tak pandai bercerita, bahkan kepada Tuhannya. Ia datang dengan hati penuh harap, tapi tiap kata terasa hambar, setiap permohonan terasa lemah. Ia ingin mengatakan betapa ia membutuhkan kehadiran yang lebih nyata, ingin berbagi kehampaan yang menguasai jiwanya, tapi tak ada kata yang tepat. Seperti ada jarak, dan ia tak tahu bagaimana mendekatkan dirinya. Seolah berusaha membaca peta tanpa tahu di mana ia berada.


Kehampaan itu bukannya tak terlihat. Di malam-malam panjang, ia merasa seperti seorang pejalan yang terjebak di tengah padang luas tanpa penunjuk arah. Ia merasa telah berbuat, berusaha, tapi tak menemukan jejak kepastian yang menenangkan. Dan akhirnya, ia kembali diam, terjebak dalam cerita yang hanya ia sendiri yang mendengar.


Namun, ada sesuatu yang mungkin belum ia sadari. Barangkali, kehampaan itu adalah panggilan. Sebuah ajakan untuk berhenti mencari kebahagiaan di dalam ibadah semata, melainkan menyadari bahwa kebahagiaan sejati hadir ketika ibadah menjadi jalan untuk mencintai-Nya, bukan hanya sekadar mencari ketenangan. Mungkin di situ, di balik keheningan yang hampa, tersimpan petunjuk tersembunyi yang sedang menuntunnya untuk membuka hati dengan lebih tulus dan menghapus keinginan manusiawi yang terlalu mendominasi. 


Sebab, kadang-kadang kehampaan adalah cara Tuhan untuk mengajak kita berbicara lebih dalam, untuk bercerita, untuk membuka diri tanpa syarat. Untuk menyadari bahwa kita beribadah bukan hanya untuk memenuhi kehampaan itu, melainkan untuk melebur di dalam kasih-Nya.


Kisah lain yang mengingatkan saya pada sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW. Ya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dikenal karena keteguhan imannya dan kedalaman spiritualnya. Setelah Nabi diangkat menjadi rasul, Abu Bakar adalah orang pertama yang menerima dan membenarkan kenabian beliau. Meskipun memiliki banyak kekayaan dan kedudukan yang tinggi, ia selalu merasa ada yang lebih penting dari sekadar harta dan status sosial.


Suatu ketika, Abu Bakar mengalami masa-masa sulit. Dia merasakan kehampaan meskipun di luar tampak sukses. Dalam perjalanan hidupnya, ia sering kali merenungkan kehidupan dan tujuan sebenarnya. Hal ini mendorongnya untuk lebih mendalami agama dan mendekatkan diri kepada zat yang  Agung Allah SWT..


Di satu sisi, ia menikmati kesenangan duniawi yang ada, namun di sisi lain, ia sangat sadar bahwa semua itu tidak akan abadi. Dalam pencarian makna ini, Abu Bakar sering melakukan kebaikan, membantu orang yang membutuhkan, dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Dengan cara itu, ia menemukan kepuasan dan rasa syukur yang mendalam. Ibadah dan kebaikan yang dilakukannya menjadi sumber kebahagiaan dan ketenangan batin.


Abu Bakar juga dikenal karena doanya yang penuh kerendahan hati. Ia sering memohon kepada Allah agar diberi petunjuk dan kekuatan untuk tetap di jalan-Nya. Dalam doanya, ia mengungkapkan rasa takutnya akan kehilangan nikmat iman dan ketidakmampuannya merasakan kedekatan dengan Allah. Ia berkata, "Ya Allah, jangan biarkan hatiku kosong dari cahaya-Mu dan jangan biarkan aku terjebak dalam kesenangan dunia yang membuatku melupakan-Mu."


Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq mengajarkan kita bahwa pencarian makna dalam hidup sering kali melibatkan perjalanan spiritual yang mendalam. Meskipun kita memiliki pencapaian di dunia ini, kita harus tetap sadar akan kehampaan yang mungkin menyelubungi hati kita. Dengan memperdalam iman, melakukan kebaikan, dan selalu bersyukur atas nikmat yang ada, kita dapat mengisi batin kita dengan kehadiran Tuhan.

---

"Syukur kuucapkan dalam hati," bisikku dalam pikiran, "masih ada kesadaran akan kehampaan ini, daripada tidak sama sekali terlintas dalam benak." Kehampaan yang menghampiri bukanlah tanda kelemahan, melainkan panggilan untuk merenung dan mengeksplorasi lebih dalam. Kesadaran ini, meskipun kadang menyakitkan, adalah titik awal yang berharga dalam perjalanan spiritual kita.


Mungkin cerita sahabat lamaku itu juga bisa terjadi bagi diriku dan bagi kalian yang membaca. Kita semua memiliki momen di mana pencapaian di luar tidak sejalan dengan perasaan batin. Ada kalanya hidup terasa hampa, meski secara fisik kita dikelilingi oleh segala sesuatu yang kita inginkan. Dalam setiap detik yang kita luangkan untuk merasakan kehampaan, kita diberi kesempatan untuk lebih peka terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Betapa beruntungnya kita, masih memiliki ruang untuk bertanya, untuk mencari, dan untuk tumbuh. 


Doaku, semoga batin ini selalu terisi dan tidak kosong, karena aku takut akan nikmat yang Engkau berikan tak bisa aku rasakan dengan sepenuh hati. Nauzubillah, jangan biarkan kami terlepas dari kesadaran akan keindahan dan karunia-Mu. Jadikanlah kami hamba yang selalu bersyukur dan mampu merasakan setiap nikmat yang Engkau limpahkan, baik dalam suka maupun duka. Aamiin.


Mungkin ini akan menjadi satu bagian dari sub tulisan dari buku yang akan saya sempurnakan yang sudah lama saya tuliskan 2 tahun lalu dan mangkrak, Semoga.


Penulis: Ihsan Zikri

Menjadi 'Santri Rasa-Rasa' di Masa Sekolah Menengah,

Begitulah yang mungkin cocok disematkan untuk saya. Saya bukanlah santri tulen yang tumbuh dan dididik di pesantren sejak kecil. Namun, di masa sekolah menengah, saya pernah tinggal di asrama sekolah berbasis sistem boarding school yang sekilas mirip dengan kehidupan pesantren. Meski lingkungannya disiplin dan kolektif, tentu saja itu belum mendekati pendidikan di pesantren sesungguhnya. Saya lebih merasa seperti 'santri rasa-rasa', bukan santri sesungguhnya. Namun, pengalaman ini menjadi awal mula saya merasakan kedekatan dengan kehidupan asrama dan pendidikan kolektif. 


Benar-benar merasakan kehidupan sebagai santri baru saya rasakan ketika memasuki dunia kampus, dan itu pun karena kewajiban. Satu tahun pertama saya diwajibkan mengikuti program pembinaan berbasis pendidikan agama, hampir menyerupai kehidupan pesantren. Inilah kali pertama saya benar-benar terjun ke dalam lingkungan santri. Banyak teman saya adalah santri tulen yang sudah bertahun-tahun belajar di pondok pesantren. Interaksi dengan mereka membawa paradigma baru tentang kehidupan pesantren dan pendidikan keagamaan yang lebih mendalam. Sungguh luar biasa, bagaimana nilai-nilai pesantren berakar kuat dalam diri mereka.


Ada momentum yang membuat saya kaget, terheran-heran. Begitulah perasaan saya ketika tiba-tiba dinobatkan sebagai santri teladan tahun 2019 di Ma'had kampus. Saya, yang sebelumnya merasa bukan santri tulen, hanya bermodalkan kehadiran yang konsisten dan absensi yang selalu lengkap saat ta'lim, tiba-tiba mendapat pengakuan yang cukup menggelitik. Bahkan, ini menjadi guyonan tersendiri bagi saya. Siapa sangka, konsistensi sederhana ini membawa saya pada pengalaman yang berharga, meski di dalam hati masih bercampur rasa heran. Ini bukan ajang untuk haus akan validasi atas apa yang didapat, hanya untuk menjadi pengulangan ingatan lelucon yang benar terjadi di pribadi ini pada waktu itu, Ah lucu sekali. Saya bukan santri sejak kecil, tapi pengalaman ini tetap menjadi bagian dari perjalanan spiritual dan intelektual saya.


Oke kembali fokus, bahwa yang saya dapati sistem pendidikan di pesantren, baik salaf (tradisional) maupun khalaf (modern) ternyata tidak hanya mengajarkan hafalan Al-Qur'an atau kajian kitab kuning. Lebih dari itu, pendidikan karakter, kedisiplinan, dan keteguhan mental yang diajarkan di sana meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Tak heran jika banyak tokoh hebat lahir dari pesantren, baik dalam bidang agama, bisnis, maupun politik. Saya melihat dengan jelas bagaimana lulusan pesantren siap menghadapi dunia luar, bukan hanya dengan modal ilmu agama, tetapi juga dengan karakter dan etos kerja yang tangguh.


Picture by Bielha Nabielha 

Peran Pesantren dalam Perjuangan Bangsa: Sebuah Sejarah yang Berharga

Saat ini kita merayakan Hari Santri, yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, ada baiknya kita kembali merenungi peran besar santri dalam sejarah bangsa. Penetapan Hari Santri merujuk pada fatwa monumental yang dikenal sebagai 'Resolusi Jihad' yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini mendorong kaum santri untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah. Resolusi Jihad menjadi tonggak penting dalam perlawanan di Surabaya yang kemudian dikenal sebagai 'Pertempuran 10 November'. Sejarah ini mencerminkan bahwa pesantren tidak hanya berperan dalam mendidik para santri secara keagamaan, tetapi juga turut mempertahankan kedaulatan bangsa.


Peran santri dalam sejarah bangsa kita menjadi alasan kuat mengapa pesantren harus terus dijaga dan dikembangkan. Hingga kini, santri tetap menjadi bagian dari benteng moral dan intelektual bangsa, menjaga nilai-nilai keislaman yang toleran dan damai. Mereka terus membuktikan bahwa pendidikan di pesantren tidak hanya menghasilkan ulama, tetapi juga pemimpin dan profesional di berbagai sektor.


Jika saya bisa memilih ulang waktu masih di bangku sekolah menengah, mungkin saya akan masuk ke pesantren, pikir saya sambil mengetik ini. Tapi, takdir membawa saya pada jalan berbeda yang tetap membuat saya bersyukur. Lingkungan yang saya tempati saat ini membawa saya dekat dengan pesantren, bahkan memungkinkan saya terlibat langsung dalam pendampingan kualitas mutu pendidikan beberapa pesantren. Dari sini, saya semakin menyadari betapa luar biasanya sistem pendidikan yang ada di pesantren, baik dari aspek keagamaan maupun pembentukan karakter. Keterlibatan saya di dunia ini mengajarkan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga sekolah kehidupan yang membentuk santri menjadi manusia tangguh, mandiri, dan berintegritas.


Refleksi: Santri dan Pesantren di Era Modern

Walau begitu, di luar sana masih ada yang mendeskreditkan dan meragukan keberadaan pesantren. Bagi sebagian orang yang mungkin sensitif atau kurang mengenal pesantren, lembaga ini dianggap ketinggalan zaman. Namun, saya melihat sebaliknya. Pesantren justru menjadi lembaga yang fleksibel, mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitasnya. Saya semakin yakin bahwa pendidikan pesantren tetap relevan, bahkan penting, di era modern ini. Banyak alumninya yang berhasil menjadi pengusaha sukses, pemimpin di berbagai sektor, dan tokoh bangsa yang memberikan kontribusi nyata. Seperti halnya pada era baru pemerintahan saat ini, baik menteri atau badan lainnya, diisi banyak kalangan alumni santri. Ini membantah stigma bahwa santri adalah kalangan bawah berpakaian kemeja putih, sarung dan bersongkok dan tidak memiliki masa depan, seperti apa yang pernah saya dengar. 


Momen Hari Santri adalah saat yang tepat untuk merenung dan memberikan apresiasi kepada pesantren dan para santri yang telah banyak berkontribusi bagi bangsa ini. Sejarah telah membuktikan bahwa santri adalah penjaga dan penggerak moral bangsa, dan mereka akan terus berperan demikian di masa depan.


Picture by darunnajah.com

---

Meskipun saya bukan santri tulen, perjalanan ini membawa saya pada pemahaman yang mendalam tentang pesantren dan makna menjadi seorang santri. Dari luar, saya melihat keagungan yang ada di dalamnya—karakter yang ditempa dengan ketekunan, akhlak yang dijaga dengan ketat, dan ilmu yang dipelajari dengan hati yang terbuka. Pesantren bukan hanya tempat belajar, tetapi sebuah ekosistem yang membentuk manusia seutuhnya, baik dalam iman maupun amal.


Saya jadi teringat tokoh besar bersejarah, KH. Hasyim Asy'ari sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, pernah mengatakan bahwa pendidikan di pesantren adalah pendidikan karakter. Beliau menekankan bahwa ilmu pengetahuan saja tidak cukup tanpa akhlak yang baik. Kata-kata yang membuat saya terenyuh 

Jika ilmu tidak diiringi dengan akhlak yang mulia, maka ilmu itu akan melahirkan kecerdasan tanpa nurani,” ungkapnya. Ini adalah inti dari pendidikan pesantren, dimana ilmu agama dan pembentukan karakter menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.


Tak hanya itu, mantan Presiden ke-4 Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid), yang juga seorang santri dan TebuIreng Jombangnya siapa yang tak mengenali? sering kali menegaskan peran besar pesantren dalam membangun identitas kebangsaan. 

Menurutnya, “Pesantren adalah benteng terakhir bangsa ini. Di sini kita menemukan kesederhanaan, kemandirian, dan integritas yang terus menerus diperbarui oleh semangat keagamaan.” Gus Dur melihat pesantren sebagai sumber kekuatan yang mampu mengokohkan fondasi moral bangsa sekaligus menjawab tantangan modernitas dengan bijak.


Hari Santri menjadi momen bagi kita, bukan hanya untuk merayakan, tapi juga untuk merenungkan—bagaimana para santri di seluruh penjuru negeri ini adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah dan masa depan bangsa. Dari sinilah saya belajar bahwa meski saya bukan santri tulen, semangat dan nilai-nilai luhur pesantren tetap mengalir dan membentuk saya hingga saat ini. Mereka yang pernah mencicipi kehidupan di pesantren, sejenak atau seumur hidup, adalah bagian dari ikatan tak terlihat yang terus membawa bangsa ini menuju puncak kejayaannya. Santri, baik tulen maupun 'dadakan' seperti saya, tetaplah pilar bagi masa depan Indonesia yang lebih bermakna. I'am believe it. Harap saya, jika bukan saya yang menjadi santri mungkin anak? cucu? atau siapapun kalian yang membaca, kelakar saya untuk menutup.. dari pribadi ini si 'Santri Rasa-Rasa'.


"Selamat Hari Santri Semangat Merawat Tradisi" 💫

Penulis: Ihsan Zikri Ulfiandi

Pendekatan Keluarga: Cinta yang Menyembuhkan

Beberapa waktu lalu, saya melakukan sebuah riset yang membawa saya ke salah satu pondok pesantren di Kota kecil padat di Jawa Timur yang tak seperti pesantren pada umumnya. Pesantren ini memiliki misi yang unik dan mulia: menangani rehabilitasi sosial. Di dalamnya, bukan hanya santri biasa yang ingin mendalami ilmu agama, tetapi mereka yang datang dari latar belakang penuh luka, anak jalanan, pecandu narkoba, pengamen, dan berbagai jiwa-jiwa yang pernah tersesat dalam kegelapan hidup. Di tempat ini, mereka diberikan pendidikan, pembinaan, dan kegiatan positif yang mengubah hidup.


Saat pertama kali memasuki lingkungan pesantren ini, saya disambut suasana penuh kedamaian. Namun, di balik ketenangan itu, ada perjuangan berat yang dihadapi setiap santri. Saya segera tersadar bahwa mereka bukan hanya sedang mempelajari agama, tetapi juga berjuang melepaskan diri dari jerat masa lalu yang kelam. Kegiatan sehari-hari mereka diisi dengan rutinitas pesantren—shalat berjamaah, mengaji, bekerja di kebun pesantren, tetapi semuanya dilakukan dengan satu tujuan besar: pemulihan jiwa dan raga.


Sumber: Pinterest/Hill Firdaus

Dialog dengan Sang Kiai: "Mereka Semua Anak Saya"

Pada satu kesempatan, saya duduk bersama sang kiai, seorang pemimpin yang luar biasa sabar dan penuh kasih. Saya bertanya kepadanya tentang metode unik yang digunakan dalam pesantren ini, terutama bagaimana ia menangani para santri dengan latar belakang yang begitu beragam dan penuh tantangan. Percakapan kami berlangsung tenang, tetapi menyentuh hati.


"Kiai," saya membuka percakapan, "Bagaimana Anda bisa menangani mereka dengan begitu sabar? Saya lihat, di sini mereka bukan sekadar santri, tapi lebih seperti anak-anak yang Anda rawat dengan penuh kasih sayang."


Sang kiai tersenyum lembut. "Karena mereka memang anak-anak saya," jawabnya dengan tenang. "Di sini, kami tidak melihat mereka sebagai masalah atau beban. Mereka datang dengan luka, dengan masa lalu yang mungkin kelam. Tetapi di sini, kami percaya mereka bisa sembuh. Kami adalah keluarganya, dan keluarga harus selalu ada untuk mendukung satu sama lain, bukan?"


Saya merasakan kedalaman filosofi yang ia pegang. "Lalu bagaimana caranya pendekatan keluarga ini membantu mereka? Bukankah sebagian dari mereka sudah pernah menjalani rehabilitasi di tempat lain, tetapi tidak berhasil?" tanya saya penasaran.


"Sistem di sini berbeda," jawab kiai. "Kami tidak hanya mengandalkan aturan atau terapi yang kaku. Kami membangun kedekatan, memberikan kepercayaan, dan membuat mereka merasa diterima. Mereka harus merasa aman dan dicintai dulu sebelum bisa sembuh. Tanpa itu, rehabilitasi hanyalah rutinitas yang tak akan menyentuh hati mereka."


Sebagai seorang yang sedang melakukan riset awalnya saya kurang begitu meyakini akan apa yang disampaikan, sampai dengan pada saat  mendengarkan beliau menceritakan hal-hal tersebut, saya melihat dinding pojok banyak sekali penghargaan, foto dengan tokoh sampai dengan menteri yang membuat saya akhirnya meyakini apa yang telah dilakukan beliau adalah benar adanya. 


Momen Mengejutkan: Santri yang Mengalami Sakau

Salah satu momen yang tak akan pernah terlupakan adalah ketika saya menyaksikan seorang santri mengalami sakau di tengah proses rehabilitasi. Tubuhnya gemetar, keringat bercucuran, dan ia tampak sangat kesakitan. Sebagai peneliti, tentu saya sudah siap menghadapi berbagai kemungkinan, tetapi melihat langsung bagaimana ketergantungan narkoba menghancurkan tubuh dan jiwa seseorang adalah pengalaman yang menghantam hati.


Saya sedikit terkejut saat tahu bahwa santri ini, yang umurnya masih di bawah saya, pernah terjerumus dalam dunia narkoba. Dalam sesi wawancara ini, dia berbagi kisahnya yang begitu menggetarkan hati.


"Kamu mulai menggunakan narkoba pada umur berapa?" tanya saya memulai percakapan dengan hati-hati. "Umur 19 tahun," jawabnya sambil menunduk sejenak. "Saya berasal dari Sumatra, jauh dari sini. Sudah berkali-kali saya masuk pusat rehabilitasi. Setiap kali keluar, saya kambuh lagi. Rasanya nggak pernah benar-benar sembuh."


Saya mengangguk, mendengarkan dengan seksama. "Lalu, bagaimana kamu bisa sampai di pesantren ini?" "Keluarga saya sudah putus asa. Mereka dengar tentang pesantren ini dan pendekatan yang berbeda, jadi saya dikirim ke sini. Jujur saja, awalnya saya tidak terlalu berharap, karena sudah sering gagal di tempat lain."


Rasa penasaran saya semakin besar. "Tapi kamu terlihat baik sekarang. Berapa lama sudah di sini?"


"Baru dua minggu," jawabnya sambil tersenyum kecil. "Tapi anehnya, di sini saya merasa berbeda. Biasanya kalau di tempat lain, satu atau dua hari sudah kumat, kejang-kejang. Tapi di sini, tidak pernah terjadi lagi."


Saya terkejut mendengarnya. "Hanya dua minggu dan kamu sudah merasa perubahan?" tanya saya tidak percaya.


Dia mengangguk. "Iya. Karena di sini suasananya beda. Saya merasa lebih nyaman. Kiai di sini memperlakukan kami seperti keluarga, bukan seperti pasien. Itu yang bikin saya merasa aman dan bisa mulai sembuh. Nggak ada yang menghakimi atau memperlakukan saya seperti orang yang rusak. Mereka percaya saya bisa berubah, dan itu memberi saya kekuatan."


Dialog ini membuat saya tersadar betapa kuatnya dampak pendekatan berbasis keluarga yang diterapkan di pesantren ini. Sesuatu yang mungkin dianggap sederhana, rasa nyaman, cinta, dan penerimaan, ternyata mampu menciptakan perbedaan yang luar biasa dalam proses rehabilitasi.


Namun, lebih mengejutkan lagi adalah bagaimana pesantren ini menangani situasi tersebut. Seorang kiai, dengan tenang dan penuh kasih sayang, mendekati santri itu. Alih-alih memberikan hukuman atau teguran keras, sang kiai memperlakukannya seperti seorang ayah yang merawat anaknya yang sakit. Dengan sabar, ia menenangkan santri tersebut, memberinya air, dan mengajak berbicara, seolah-olah rasa sakit yang dialami santri itu adalah bagian dari dirinya sendiri. Dalam setiap kata, dalam setiap sentuhan, ada cinta yang tulus. Saya menyaksikan bagaimana kiai ini, yang memimpin pesantren, tidak hanya menjadi guru atau pemimpin, tetapi juga figur ayah yang penuh perhatian bagi setiap santrinya.


Pelajaran Kehidupan: Pesantren sebagai Keluarga

Pengalaman ini membuka mata saya terhadap filosofi yang diterapkan di pesantren ini. Para santri tidak diperlakukan sebagai pasien atau sekadar orang yang harus “disembuhkan,” tetapi sebagai bagian dari keluarga besar pesantren. Di sini, setiap orang—apapun masa lalunya—dipeluk dengan kehangatan dan diterima dengan tangan terbuka. Pesantren ini menanamkan pada para santri bahwa mereka berhak untuk sembuh, berhak untuk memiliki masa depan yang lebih baik, dan berhak untuk dicintai tanpa syarat.


Kebersamaan dan kekeluargaan menjadi kunci utama dalam proses pemulihan. Para santri tidak hanya diajarkan tentang agama, tetapi juga tentang cinta kasih, tanggung jawab, dan solidaritas. Ketika ada seorang santri yang jatuh, yang lain akan mengulurkan tangan untuk membangkitkan. Ketika ada yang berjuang melawan masa lalu, seluruh pesantren akan berjuang bersama.


Dari kiai di pesantren ini, yang mengajarkan bahwa cinta dan perhatian jauh lebih efektif dalam proses rehabilitasi daripada sekadar aturan ketat atau hukuman. Baginya, setiap santri adalah seperti anaknya sendiri yang tersesat dan berusaha untuk pulang. Kiai ini dengan sabar membimbing mereka, bukan hanya untuk sembuh dari kecanduan, tetapi juga untuk menemukan kembali nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas yang hilang.


Refleksi: Ketika Agama dan Pemulihan Bertemu

Kisah pesantren ini mengajarkan saya bahwa agama bukan hanya soal ritual dan hukum, tetapi juga tentang bagaimana kita merawat sesama. Di tengah krisis yang dihadapi banyak santri, pesantren ini menjadi oasis bagi mereka yang mencari kedamaian setelah badai kehidupan yang mengguncang. Melalui pendidikan, cinta, dan kebersamaan, pesantren ini berhasil membangun lingkungan yang tidak hanya mengubah perilaku, tetapi juga jiwa.


Di tempat ini, saya belajar bahwa pemulihan tidak bisa dilakukan sendirian. Butuh komunitas yang peduli, lingkungan yang mendukung, dan figur pemimpin yang penuh kasih seperti kiai di pesantren ini. Dalam setiap santri yang sembuh, ada kerja keras seluruh pesantren. Setiap langkah kecil menuju pemulihan adalah pencapaian besar bagi semua orang yang terlibat.


Sumber: MiftaArt


Ketika cinta dan ilmu bertemu dalam ruang pemulihan, saya teringat pada sebuah kutipan dari seorang tokoh besar, Imam Al-Ghazali, yang pernah berkata, "Cinta adalah sumber segala pengetahuan; tanpa cinta, tidak ada jalan menuju kebenaran yang sejati." Kata-kata ini begitu relevan dengan apa yang saya saksikan di pesantren rehabilitasi ini, sebuah tempat di mana cinta bukan hanya ungkapan kasih sayang, tetapi juga jembatan menuju pemulihan jiwa dan pencapaian ilmu. Di sini, cinta dan pengetahuan berjalan seiring, menciptakan ruang di mana para santri yang terluka dapat menemukan jalan untuk sembuh, bukan hanya dari ketergantungan fisik, tetapi juga dari kegelapan spiritual.


Pondok pesantren ini bukan hanya tempat rehabilitasi dalam arti klinis, tetapi juga menjadi wadah di mana cinta dan ilmu bekerja sama dalam proses penyembuhan. Ketika para santri datang dengan berbagai luka batin dan masa lalu yang penuh kesakitan, mereka tidak hanya dihadapkan pada serangkaian aturan dan terapi formal. Sebaliknya, mereka dirangkul dengan penuh kasih oleh para pengajar, diperlakukan sebagai bagian dari keluarga yang menginginkan kebaikan untuk mereka. Ini adalah bukti nyata bahwa cinta dan ilmu memiliki kekuatan untuk memulihkan dan membangun kembali kehidupan yang telah hancur.


----

Akhirnya, pesantren rehabilitasi ini telah memberikan saya banyak pelajaran berharga, baik sebagai peneliti maupun sebagai manusia. Pendekatan berbasis keluarga yang diterapkan oleh sang kiai dan staf pesantren berhasil menciptakan lingkungan yang mendukung proses penyembuhan yang mendalam dan penuh kasih. Pengalaman ini membuka mata saya bahwa cinta, perhatian, dan penerimaan tanpa syarat bisa menjadi kunci utama dalam menyembuhkan luka-luka terdalam dari mereka yang pernah tersesat.


Kisah santri yang baru dua minggu berada di pesantren ini, tetapi sudah merasakan perubahan yang besar, adalah salah satu contoh dari banyak keajaiban yang terjadi di sini. Di balik dinding-dinding pesantren ini, ada harapan yang tumbuh, ada kehidupan yang dibangun kembali, dan ada cinta yang terus menyembuhkan.


Penulis: Ihsan Zikri Ulfiandi

Tesis Hasil Riset 




Bertemu Sang Pengelana: Sebuah Kisah Tentang Perjalanan, Pendidikan, Kehidupan, dan Kebahagiaan di Sudut-Sudut Nusantara


Suatu sore di hari Ahad sedang bekerja di depan laptop yang tenang di pojokan sebuah kafe, saya melihat seseorang yang tampak berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Kulitnya putih, rambutnya pirang, dan posturnya tinggi semampai. Dia duduk sendiri, terlihat menikmati kesendiriannya. Rasa penasaran saya memuncak, dan dengan spontan saya mendatanginya. “Hey, Mr. Nice to meet you.,” saya menyapa dengan bahasa Inggris, lalu menanyakan apakah saya bisa duduk dan mengobrol dengannya. Dengan senyuman hangat, dia mempersilakan.


Mr. William sebut saja, kami mulai berbincang, dan dalam waktu singkat, percakapan menjadi begitu hangat. Ternyata, dia adalah seorang traveler asal Prancis yang sedang mengelilingi pelosok Indonesia dengan motor roda tiga, varian unik yang ia sebut “VAR Indonesia” Dia sudah menjelajahi banyak tempat selama beberapa tahun belakangan ini, dari NTT di Kupang, NTB, hingga ke Borneo, dan saat ini dia sedang berada di Malang, Jawa Timur.


Sumber: IG.mytripmyviar

Mendengar bahwa dia telah mengunjungi beberapa tempat termasuk tempat kelahiran saya yakni tana Borneo, tepatnya di Balikpapan dan Samarinda, saya langsung menanggapi dengan antusias, “Oh, saya asli dari sana!” ucap saya dengan nada bangga. Ia menyebutkan bahawa perjalanan di Borneo diarasa kurang menyenangkan karna faktor cuaca yang pada saat itu sedang memasuki musim hujan. Kami pun bercanda sejenak, "Apakah Anda, Mr., tidak ingin kembali dan berencana mengunjungi IKN kami?" saya bertanya sambil tertawa kecil, merujuk pada proyek Ibu Kota Nusantara yang sedang digarap di Kalimantan Timur. Dia pun tertawa lepas sambil menjawab, “Tidak, saya tidak yakin dengan proyek ambisi itu,” katanya santai, dan kami berdua tertawa bersama dan tidak melanjutkan percakapan IKN tersebut.

Uniknya, percakapan kami berlangsung dalam bahasa Indonesia dengan sesekali campuran bahasa Inggris, karena ternyata dia sudah cukup lama berada di Indonesia. Bahasa Indonesianya cukup fasih, yang membuat obrolan kami semakin lancar dan hangat, seperti teman lama yang saling berbagi cerita.


Dia bercerita tentang pengalamannya berkeliling negeri ini, menemui orang-orang di tempat-tempat yang jauh dari hingar-bingar perkotaan. “Indonesia itu luar biasa,” katanya, “kehidupan di pedalaman begitu berbeda, tapi juga begitu indah.” Saat dia menceritakan kehidupan masyarakat di pelosok, saya terenyuh. Di tempat-tempat yang dia kunjungi, meski jauh dari kemewahan kota, ia menemukan kebahagiaan sederhana. “Orang-orang di sana mungkin tidak punya banyak uang, tapi senyum mereka adalah kebahagiaan yang sesungguhnya,” Ia memaknai bahwa kebahagiaan bukan hanya soal uang saja tapi bagaimana kebahagiaan bisa didapat dari apa yang ada disekitar kita, tambahnya. 


Saya tersenyum mendengar cerita itu, namun yang paling mengejutkan adalah ketika dia mengungkapkan bahwa masih ada daerah-daerah di Indonesia yang menggunakan sistem barter untuk bertransaksi. “Bayangkan, mereka masih saling menukar barang tanpa uang. Sesuatu yang mungkin sulit kita pahami di dunia modern ini,” katanya. lantas apakah ini terdengar oleh orang elitis diatas? entahlah..


Tapi aksi perjalanan dia bukan sekadar penjelajahan. Ternyata, dalam setiap perjalanan yang dia tempuh, dia juga membawa buku-buku untuk dibagikan kepada anak-anak di desa-desa terpencil. “Saya ingin mereka punya kesempatan untuk mengenal dunia lain melalui buku, walaupun mereka tinggal jauh di pelosok,” ucapnya penuh semangat.


Sumber: IG.mytripmyviar

Seiring obrolan, kami membahas tentang sistem pendidikan di negaranya, Prancis. Saya penasaran, mengingat pendidikan di Eropa selalu dianggap maju. Namun jawabannya sungguh mengejutkan. Dia berkata, "Pendidikan formal itu sering kali membuang waktu. Pendidikan yang sebenarnya adalah bagaimana kita belajar dari kehidupan, bukan dari buku teks.” Baginya, hidup di lapangan, berinteraksi dengan orang-orang, dan mengalami kehidupan secara langsung adalah bentuk pendidikan paling berharga. Dia percaya bahwa pendidikan tidak hanya soal duduk di kelas atau menghafal materi, tetapi lebih tentang memaknai dan menikmati kehidupan di dunia nyata.


Pernyataan itu benar-benar membuka pikiran saya. Bagaimana mungkin seseorang yang datang dari negara dengan salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia, Prancis, bisa memiliki pandangan yang begitu berbeda? Prancis dikenal dengan sekolah-sekolahnya yang terstruktur, dengan program pendidikan yang komprehensif sejak taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Sistem pendidikan Prancis memberikan kebebasan akademik, dan fokus pada pengembangan keterampilan analitis serta logika. Pendidikan di sana hampir seluruhnya gratis, dan pemerintah sangat mendukung akses yang setara untuk semua kalangan. Namun bagi dia, semua itu tak lebih dari formalitas. “Yang penting adalah apa yang kita lakukan, bagaimana kita hidup,” katanya, seolah pendidikan formal hanyalah salah satu dari sekian banyak cara untuk belajar. Kemudian, terlintas pertanyaan difikiran saya, "Bagaimana dengan sistem Pendidikan di  Indonesia saat ini?"


Perbincangan dengan traveler Prancis itu meninggalkan kesan yang mendalam. Pengalaman yang dia ceritakan—tentang perjalanan melintasi Indonesia, sistem barter, hingga aksinya membagikan buku kepada anak-anak pelosok—mengingatkan saya akan pentingnya melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Di sisi lain, pandangannya tentang pendidikan mengajak saya untuk merenungkan kembali apa arti belajar sesungguhnya, dari pribadi ini yang berkecimpung di dunia pendidikan.


Ini mengingatkan saya pada salah satu filsuf pendidikan John Dewey, pernah berujar bahwa, "Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup; pendidikan adalah hidup itu sendiri." Apa yang disampaikan Mr. William tentang belajar dari kehidupan dan lapangan sungguh mencerminkan pandangan Dewey ini. Dia percaya bahwa pengalaman hidup sehari-hari memberikan pelajaran yang jauh lebih bermakna daripada sekadar teori di buku.


Pendidikan tidak harus selalu datang dari ruang kelas. Mungkin, belajar dari kehidupan dan pengalaman nyata, dari interaksi dengan orang lain, dari petualangan yang membuka mata, adalah cara terbaik untuk benar-benar memahami dunia ini. Di tengah kompleksitas pendidikan formal, terkadang kita lupa bahwa esensi belajar adalah bagaimana kita memaknai kehidupan. Dan itulah yang saya pelajari sore itu, dari seorang traveler asing yang penuh semangat, di pojokan sebuah kafe di Kota Malang.


Support: mytripmyviar (IG,Yt, Tiktok)